Langsung ke konten utama

MALAM PANJANG MENJELANG PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI 1945.

Malam-malam Panjang Menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945


Pergumulan penentuan Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 sudah dimulai sekitar seminggu sebelum pembacaan naskah proklamasi. Perjuangan puluhan tahun itu dipenuhi persaingan antara kelompok pemuda yang ingin segera mengaklamasikan kemerdekaan dan ikon perjuangan seperti Sukarno Hatta. Tempo mencoba mengangkat momen bersejarah detik-detik proklamasi tersebut.

12 Agustus 1945
Sukarno, Hatta dan Dr. Radjiman bertemu pimpinan Jepang di kota Saigon. Pada pertemuan itu, Terauchi, seorang pejabat Jepang mengutarakan pemberian hadiah dari pemerintah Jepang.

Ia berpidato singkat. "Tuan-tuan, saya mengabarkan bahwa pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia." Bung Karno pun menyambut hangat pemberian itu. "Kami berjanji akan berusaha segiat-giatnya untuk melaksanakan kewajiban kami dengan segenap jiwa dan raga yang berkobar-kobar."

Hatta sendiri seusai pertemuan itu menyampaikan kepada Bung Karno perlunya mempercepat proses kemerdekaan. "Kita harus mempercepat persiapan kita untuk melaksanakan kemerdekaan kita. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia harus segera bersidang dan mengesahkan UUD Republik Indonesia."

15 Agustus 1945
Sukarno dan Hatta menuju kantor Yamamoto di Gunseikanbu, Kantor Pusat Administrasi Militer Jepang, di dekat Gambir (sekarang kantor Pertamina) untuk menanyakan betul tidaknya Jepang sudah menyerah kepada sekutu.
Sayang kantor Yamamoto kosong, Ahmad Subardjo yang waktu itu menjabat Kepala Biro Riset Angkatan Laut Jepang mengusulkan untuk mencari informasi dari Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Kaigun Bukanhu (Penghubung antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang) di sebelah Utara lapangan Ikada di gedung "Volkscreditwezen" (sekarang gedung Markas Besar Angkatan Darat jalan Medan Merdeka, Jakarta).

Kemudian ditanyakan perihal sudah menyerahnya Jepang. "Laksamana Maeda, benarkah berita yang sekarang tersiar di masyarakat bahwa Jepang sudah minta damai kepada Sekutu?"

"Benar, berita itu memang disiarkan oleh Sekutu, tetapi kami di sini belum lagi memperoleh berita dari Tokyo, sebab itu berita itu belum kami pandang benar. Hanya instruksi dari Tokyo yang menjadi pegangan kami," ujar Maeda

Pukul 9.30, 15 Agustus 1945
Sekelompok pemuda yaitu Wikana, Soebadio, Chaerul Saleh, Sukarni, Adam Malik, Darwis, dan Soeroto Kunto mendatangi kediaman Bung Karno di Pegangsaan. Wikana yang bekerja di kantor Kaigun Bukanhu pimpinan Maeda mengutarakan niatnya agar Bung Karno dan Bung Hatta supaya segera menyatakan kemerdekaan, lepas dari janji Jepang dan PPKI. Pada saat yang sama pemuda lainnya juga mendatangi kediaman Bung Hatta. Waktu itu Hatta sedang menyiapkan pidato kemerdekaan yang akan dibagikan kepada anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan. Hatta diajak agar mau mendatangi kediaman Bung Karno menyiapkan rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia.

Wikana kemudian maju, matanya menyorot tajam, ia memandang Sukarno dan berkata setengah menggeram, "Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman kemerdekaan malam ini juga, besok pagi akan terjadi pembunuhan dan penumpahan darah."

Tidak mau kalah Bung Karno yang waktu itu sedang menderita malaria membalas dengan wajah merah padam, sambil menyorongkan lehernya. "Ini leherku, seretlah aku ke pojok sana, dan sudahilah nyawaku malam ini juga, jangan menunggu sampai besok."

Pukul 3 pagi, 16 Agustus 1945
Para pemuda mendatangi kediaman Bung Karno. Chaerul Saleh dan beberapa pemuda masuk dengan diam-diam, berpakaian seragam PETA. "Berpakaianlah Bung. Sudah tiba saatnya," kata seorang pemuda. Pemuda lain berkata, "Oleh karena itu kami akan melarikan Bung keluar kota. Sudah kami putuskan untuk membawa Bung ke tempat yang aman."

Pukul 4 pagi, 16 Agustus 1945
Di pekarangan rumah Bung Karno sudah ada dua mobil. Mobil yang satu sudah diisi Hatta, Sukarno, Fatmawati dan Guntur masuk ke mobil Fiat. Selama di Rangasdengklok rombongan Bung Karno dan Hatta disembunyikan di rumah Djiauw Kie Siong.

Pukul 18.00, 16 Agustus 1945

Sukarni, seorang aktivis Menteng 31 mendatangi persembunyian kedua tokoh tersebut. Ia membawa pesan bahwa Ahmad Subardjo telah datang dan ditugasi oleh Gunseikan untuk membawa rombongan kembali ke Jakarta. Alasanya Panitia Persiapan Kemerdekaan tidak bisa bekerja tanpa kehadiran dua tokoh yang diculik tersebut.

Rombongan kembali ke Jakarta menggunakan tiga mobil. Mobil pertama berisi Sukarni (aktivis Menteng 31), Ahmad Subardjo menemani Bung Karno, Fatmawati, Guntur dan Bung Hatta. Mobil kedua merek Skoda diisi Sudiro (Pemimpin Harian Barisan Pelopor) dan Kunto. Mobil ketiga diisi oleh tentara PETA.

Sekitar Pukul 20.00, 16 Agustus 1945
Sampailah di kediaman Bung Karno. Hanya Fatmawati dan Guntur yang turun. Bung Karno melanjutkan menemani Bung Hatta pulang.

Pukul 22.00, 16 Agustus 1945

Bung Karno bersama Subadjo menjemput Bung Hatta menuju rumah Laksamana Maeda. Dalam pertemuan itu Maeda meminta Bung Karno mencegah pemberontakan. "Tuan-tuan, kita harus mencegah pemberontakan para pemuda dan tentara PETA malam ini karena mereka pasti akan berhadapan dengan tentara Jepang."

Dinihari 17 Agustus 1945
Sukarno dan Hatta kembali ke rumah Maeda. Di dalam rumah Maeda sudah banyak orang hadir, Tampak Latuharhary SH, Otto Iskandardinata, Teuku Mohammad Hasan juga tokoh pemuda seperti Chairul Saleh, Sukarni, BM Diah dan Sayuti Melik.

Kemudian Sukarno dan Hatta merancang naskah proklamasi. Awalnya Bung Karno meminta Hatta yang merancang, namun ditolak Hatta. "Apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan, aku mendiktekannya."


Bung Karno sempat menanyakan kepada Ahmad Subardjo. "Masih ingatkah Saudara teks dari Bab Pembukaan Undang-undang Dasar kita?" Teks itu ditanyakan karena Bung Karno memerlukan kalimat-kalimat yang menyangkut proklamasi.

Terjadi perdebatan setelah Bung Hatta menanyakan siapa saja yang harus ikut menandatangani naskah proklamasi itu. Akhirnya Sayuti Melik, setelah berunding dengan tokoh lain melontarkan idenya kemada Sukarni.

Langsung dilontarkan Sukarni, "Bukan kita semuanya yang hadir di sini harus menanda tangani naskah itu. Cukuplah dua orang saja menanda tangani atas nama rakyat Indonesia, yaitu Bung Karno dan Bung Hatta."

Ikada atau Pegangsaaan Timur

Sukarni menyatakan naskah proklamasi harus dibacakan di Lapangan Ikada karena sudah memberitahukan kepada rakyat agar mendatangi lapangan itu. Usul itu ditolak Sukarno. "Lebih baik dilakukan di tempat kediaman saya, Pegangsaan Timur. Pekarangan di depan rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing-mancing insiden."

Polemik pembacaan itu terjadi pukul 03.00 pagi. Akhirnya Bung Karno memutuskan, "Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan Timur 56 pukul 10.00 pagi".

Selesai naskah proklamasi diketik Sayuti Melik, keluarlah Laksamana Maeda dengan beberapa orang Jepang dan mengucapkan selamat.

Pukul 9.50, 17 Agustus 1945

Beberapa orang nampak gelisah karena Bung Hatta tidak kunjung datang. Bung Karno pun bersikeras tidak akan membacakan bersama tanpa kehadiran rekanya itu. Akhirnya lima menit menjelang pukul 10.00 Hatta datang dan disambut meriah.

Dalam buku Sepekan Menjelang Kemerdekaan yang ditulis Buntje Harbunangin, selesai membacakan naskah proklamasi, Bung Karno memberikan pidato singkatnya. "Demikianlah saudara-saudara, kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita. Mulai saat ini kita menyusun negara kita. Negara Merdeka, dengan Republik Indonesia merdeka, kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kita, kemerdekaan kita ini"


Copy dari TEMPO.CO

Evan/PDAT Sumber Diolah Buku Buntje Harbunangin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SITUS SOKILIMAN YANG PERLU ANDA TAHU.

Situs Sokoliman merupakan situs kepurbakalaan yang terletak di Dusun Sokoliman II, Desa Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, DI Yogyakarta, tidak jauh (sekitar 5 km) dari objek wisata Gua Pindul.  Situs ini berfungsi sama seperti situs Bleberan, di Kecamatan Playen, Gunungkidul, yaitu menampung dan mengamankan benda-benda cagar budaya, terutama yang bersifat megalitik, khususnya yang ditemukan di Desa Bejiharjo. Lokasinya berbatasan dengan lahan milik Perhutani yang ditanami kayu putih. Di situs berukuran luas 2000 meter persegi ini dikumpulkan ratusan menhir (termasuk menhir arca), batu-batu penyusun kubur batu, serta punden yang sebelumnya terserak di kebun-kebun penduduk atau di lahan milik Perhutani. Sampai tahun 2014 terdapat 137 menhir, lima kubur batu (tidak lengkap), dan tujuh papan kubur batu. Selain itu terdapat satu punden yang dipindahkan dari sumber air di dusun tersebut, yang tiap tahun didatangi penduduk dalam rangka "bersih desa...

MENGENAL JENIS PAKAN RUMINANSIA

Pakan ternak mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena 70 % operasional usaha ternak didukung kebutuhan pakan. Penting bagi pemula peternak ruminansia ( sapi, kambing dll ) untuk mengenali jenis-jenis pakan, agar usaha peternakan kita tidak merugi. Dengan pengetahuan pakan yang tepat, maka peternak dapat fokus pada apa yang ingin ditingkatkan, ingin mempercepat pertumbuhan hewan ternak, penggemukan, atau memaksimalkan dan menjaga kualitas dari hasil hewan ternak tersebut. BAHAN PAKAN TERNAK Secara umum, bahan pakan ternak dibagi menjadi 5 jenis yaitu ; pakan kasar, pakan penguat/ konsentrat, mineral, vitamin, dan pakan tambahan. 1. Pakan Kasar Pakan kasar  adalah pakan yang bervolume besar tetapi berat dari setiap unit volume-nya rendah. Makanan yang termasuk pakan kasar dapat berasal dari hijauan, antara lain: • Rumput, bisa rumput lapangan, rumput tanaman, rumput grinting, rumput benggala, rumput kolonjono, rumput gajah, rumput pakchong ...

INI CIRI CIRI FISIK YANG HARUS DIPERHATIKAN JIKA SAPI MAU BERANAK.

Suatu kegembiraan bagi petani peternak sapi, klas rumahan seperti saya ketika melihat sapi piaraanya mulai menunjukkan kebuntingan, terlebih jika sudah mendekati hari-hari kelahiran anaknya.  Masa kehamilan seekor sapi adalah sekitar sembilan bulan, dimana pada masa ini kita dapat mendeteksi atau mendiagnosa apakah sapi kita dalam keadaan bunting atau tidak .  Jika kita  mencatat tanggal inseminasi pada sapi tersebut dan sapi tersebut telah sering beranak atau beranak sebelumnya, ada kemungkinan ia akan melahirkan lagi dalam waktu seperti hamil sebelumnya.  Selain itu, banyak petunjuk fisik yang dapat membantu kita mengetahui bahwa  sapi sudah dekat mau beranak. Sebagai panduan sederhana untuk mendeteksi kelahiran sapi semakin dekat, dapat melihat tanda-tanda seperti berikut :  1. Ambing akan mengembang  Ambing merupakan kelenjar yang berfungsi mengeluarkan susu untuk makanan anaknya setelah lahir. Ambing tumbuh selama kebuntingan dan mulai...