Saudaraku warga Gunungkidul yang sedang merayakan idul fitri dimanapun berada, gema takbir semalam menandai berakhirnya ibadag ramadhan dan menyambut idul fitri, sebagai hari kemenangan.
Mudikmu semakin menambah suasana suka cita disetiap pintu rumah yang terbuka lebar dengan terang cahaya lampu memancar dari dalam rumah, yang memperlihatkan ada sederet kaleng berjejer di meja tamu. Ini menandakan lebaran telah benar-2 tiba.
Mudik atau pulang kampung, ya ...pulang kampung, sekalipun hanya guyonan media sosial bahwa pulang, syarat pertama adalah “kampung”.
Begitu juga dalam soal kemanusiaan, ukuran yang dapat dijadikan sebagai “pulang” adalah hati nurani.Idul fitri sejatinya kembali ke fitrah kita masing-masing, fitrah kemanusiaan yang membawa pada jati diri yang hakiki.
Merayakan idul fitri bukan saja soal makan dan minum, baju baru, dengan idul fitri pulalah justru menjadi peluang untuk berbagi dengan sesama.
Betapa banyak diantara kita yang tidak memiliki sebagaimana kepunyaaan dan nikmat yang kita dapatkan. Sehingga mengulurkan tangan untuk menjadi kepedulian kita sebuah langkah yang menjadi penghubung solidaritas sosial.
Hari raya idul fitri bukan saja kesempatan untuk mengunjungi kampung halaman. Ini juga menjadi momentum untuk merefleksikan kembali makna sosok manusia.
Merayakan fitrah dimana ketika taqwa diraih dan kemerdekaan dari api neraka didapatkan. Maka, sosok manusia yang menjadi gerak langkah kita perlu diteruskan dengan ibadah yang sudah dijalankan semasa ramadan.
Begitu pula dengan takbir dan tahmid yang dikumandangkan selama menyambut idul fitri. Ini menjadi pengingat bahwa hanya Allah semata-matalah yang besar dan layak diagungkan. Selain itu, bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.
Bukan pula jabatan, pangkat, dan posisi. Semua itu juga merupakan sarana untuk berbuat kebaikan. Sama dengan ramadan, bukan bulan suci yang menjadi tujuan. Tetapi dengan suasana dan kesempatan yang ada justru menjadi peluang untuk beribadah.
Dengannnya, tetap tujuannya adalah mencari ridha Allah swt. Kembali ke soal material tadi. Sama juga dengan posisi bulan suci.
Dimana materi yang kita rengkuh, posisi yang sementara menjadi sandaran dan juga jabatan yang dipegang. Semuanya tak lain dan tak bukan, kecuali mengharap ridha Allah swt.
Sehingga apapun itu, tetap saja. Semuanya berujung kepada Allah sebagaimana ikrar syahadat yang sudah diucapkan.
Hari fitri menjadi kesempatan kembali ke fitrah untuk mengingatkan kembali hakikat manusia dan hubungannya dengan Allah dan ciptaan-Nya.
Trimakasih.
Komentar
Posting Komentar